Selasa, 07 Mei 2013

Bismillah

HISAB#1

Seperti kata Umar, Sahabat Rasul yang menganalogikan taqwa seperti engkau berjalan di antara duri: Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.

Bisakah saya mentasmi'kan 5 juz sabtu malam nanti?
Dengan berbagai kesibukan duniaini. Aktifitas harian sekolah yang saya niatkan ibadah, Insya Allah.
Membaca catatan kawan SMA dari blognya yang bahasanya saya suka, tidak seperti temanya: menantang dan mencemaskan saya, sejujurnya.
Rasa terlalu banyak yang harus saya kerjakan, sementara waktu 24 jam seperti masih kurang.
Rapat ini itu. Laporan ini itu.
Hampir melalaikan ngebimbing-menemani, yang mau lomba.
Alah, Nak. Saya capek sekali.
Tapi demi mendengar suara mereka, saya bergegas mandi menyegarkan diri (setelah sebelum maghrid tidur)
dan minum kopi. Energi alam hari.

Dan dunia sosialita. Manalah saya sempat menghafal?
Satu halaman mana cukup, jika akhir minggu mau dapat 5 Juz?
Apa yang saya kejar?
Sekadar mengafal "mereka" di luar kepala?
Bentuk tanggung jawab karena saya pernah menghafalkan "mereka"?
Atau kepuasan pribadi yang kapan saja disisipi "kibr"?
Mau apa?

Yah. Dua puluh dua itu waktu yang lama hidup di dunia.
Saat ini saya ingin mengejar satu sosok. 
Yang saya rindukan punggungnya, siluetnya, suaranya jika nanti bertemu setelah kematian: "ummati... ummati..."
Dan saya tanpa rasa menyesal karena tak pernah berusaha mencintai atau berusaha mengikuti sosoknya, bisa menatap wajah agung yang dimuliakan, menjawab panggilannya, berharap ia mengenali saya, keong di antara banyak kupu-kupu cantik nan elok di sekitarnya.
Ini saja, saat ini, alasan saya.
Semoga suatu hari tak melupakannya. Tak meredup untuk menggelap.
Allah A'lam.

Rabu, 16 Mei 2012

SUPERNOVA, PUSARAN YANG GERSANG


cover versi lama... i like it
 
Dari sejak SMA, saya tak tergerak membaca buku Dee yang terkenal bagus ini. Bukan menyepelekan atau apa, tapi bener deh... ga mau baca. Saya punya firasat yang aneh mengenai ini. Entah apa,
Dan benarlah, 5 tahun kemudian, 2012, saya baru ditakdirkan membaca buku Dee yang satu ini.

Benarlah dugaan saya, tersedot ke dalam pusaran seru dan memesona khas Dee. Sensasinya tersendiri, beda dengan HarPonya J.K.Rowling. Dee ternyata lebih membuat gersang lagi. Gersang, kosong, dan sulit keluar dari aliran imagi tabu Dee. Saya tak bisa berhenti membacanya. Yah, gersang. Dia mengosongkan fikiran saya. Hiih...

Cerita belum-belum sudah masuk tema tabu: drug's party, di sesama mahasiswa Amrik asl Indonesia.
Dilanjut pertemuan dua insan gay, Reuben, mahasiswa kedokteran yang Yahudi dan Dimas, mahasiswa sastra inggris yang kristen. Second tabu yang disuguhkan Dee. Tapi tidak ada unsur vulgar bagi dua gay ini. Berkelakar bak dua sahabat pada umumnnya saja.

Ketabuan selanjutnya adalah dalam cerita yang dibuat couple ini sebagai masterpiece mereka di bidang sastra dan Psikologi science: pria yang dinamai Ksatria- pengusaha muda mapan dan tampan, jatuh cinta pada wanita bersuami. Dialah si Puteri.Ini mulai menambah kecepatan putaran arus cerita Dee. Hehe

Belum selesai sampai di sana, Tokoh ketiga dalam cerita masterpiece Reuben coffeeholic-Dimas romantis, sang Bintang Jatuh, adalah seorang yang digambarkan, berlepas dari semua identitas yang mengikat. Bebas dari ikatan agama, norma sosial, bahkan mandiri secara finansial. Mereka memillih seorang model cantik, kaya, karena (maaf) pekerjaan sampingannya sebagai kupu-kupu siang-malam. Ya, siang pun.

Cerita berkutat seputar Puteri yang semakin ingin bersama ksatria, dan cinta yang mereka perjuangkan. Akankah Puteri berhasil lepas dari suami yang selama usia pernikahan mereka baik hati dan tulus mencintai?
Juga kehidupan siang-malam sang Bintang Jatuh di dunia yang meski remang-remang, dia digambarkan sebagai sosok cerdas-bijak.