Bismillah
HISAB#1
Seperti kata Umar, Sahabat Rasul yang menganalogikan taqwa seperti engkau berjalan di antara duri: Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.
Bisakah saya mentasmi'kan 5 juz sabtu malam nanti?
Dengan berbagai kesibukan duniaini. Aktifitas harian sekolah yang saya niatkan ibadah, Insya Allah.
Membaca catatan kawan SMA dari blognya yang bahasanya saya suka, tidak seperti temanya: menantang dan mencemaskan saya, sejujurnya.
Rasa terlalu banyak yang harus saya kerjakan, sementara waktu 24 jam seperti masih kurang.
Rapat ini itu. Laporan ini itu.
Hampir melalaikan ngebimbing-menemani, yang mau lomba.
Alah, Nak. Saya capek sekali.
Tapi demi mendengar suara mereka, saya bergegas mandi menyegarkan diri (setelah sebelum maghrid tidur)
dan minum kopi. Energi alam hari.
Dan dunia sosialita. Manalah saya sempat menghafal?
Satu halaman mana cukup, jika akhir minggu mau dapat 5 Juz?
Apa yang saya kejar?
Sekadar mengafal "mereka" di luar kepala?
Bentuk tanggung jawab karena saya pernah menghafalkan "mereka"?
Atau kepuasan pribadi yang kapan saja disisipi "kibr"?
Mau apa?
Yah. Dua puluh dua itu waktu yang lama hidup di dunia.
Saat ini saya ingin mengejar satu sosok.
Yang saya rindukan punggungnya, siluetnya, suaranya jika nanti bertemu setelah kematian: "ummati... ummati..."
Dan saya tanpa rasa menyesal karena tak pernah berusaha mencintai atau berusaha mengikuti sosoknya, bisa menatap wajah agung yang dimuliakan, menjawab panggilannya, berharap ia mengenali saya, keong di antara banyak kupu-kupu cantik nan elok di sekitarnya.
Ini saja, saat ini, alasan saya.
Semoga suatu hari tak melupakannya. Tak meredup untuk menggelap.
Allah A'lam.
HISAB#1
Seperti kata Umar, Sahabat Rasul yang menganalogikan taqwa seperti engkau berjalan di antara duri: Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.
Bisakah saya mentasmi'kan 5 juz sabtu malam nanti?
Dengan berbagai kesibukan duniaini. Aktifitas harian sekolah yang saya niatkan ibadah, Insya Allah.
Membaca catatan kawan SMA dari blognya yang bahasanya saya suka, tidak seperti temanya: menantang dan mencemaskan saya, sejujurnya.
Rasa terlalu banyak yang harus saya kerjakan, sementara waktu 24 jam seperti masih kurang.
Rapat ini itu. Laporan ini itu.
Hampir melalaikan ngebimbing-menemani, yang mau lomba.
Alah, Nak. Saya capek sekali.
Tapi demi mendengar suara mereka, saya bergegas mandi menyegarkan diri (setelah sebelum maghrid tidur)
dan minum kopi. Energi alam hari.
Dan dunia sosialita. Manalah saya sempat menghafal?
Satu halaman mana cukup, jika akhir minggu mau dapat 5 Juz?
Apa yang saya kejar?
Sekadar mengafal "mereka" di luar kepala?
Bentuk tanggung jawab karena saya pernah menghafalkan "mereka"?
Atau kepuasan pribadi yang kapan saja disisipi "kibr"?
Mau apa?
Yah. Dua puluh dua itu waktu yang lama hidup di dunia.
Saat ini saya ingin mengejar satu sosok.
Yang saya rindukan punggungnya, siluetnya, suaranya jika nanti bertemu setelah kematian: "ummati... ummati..."
Dan saya tanpa rasa menyesal karena tak pernah berusaha mencintai atau berusaha mengikuti sosoknya, bisa menatap wajah agung yang dimuliakan, menjawab panggilannya, berharap ia mengenali saya, keong di antara banyak kupu-kupu cantik nan elok di sekitarnya.
Ini saja, saat ini, alasan saya.
Semoga suatu hari tak melupakannya. Tak meredup untuk menggelap.
Allah A'lam.